Budaya Tarik Maba saat Expo Kelembagaan

Sabtu (09/09), diadakan Expo Kelembagaan bagi mahasiswa baru (maba) tahun akademik 2017/2018 yang bertempat di Lapangan Minisoccer dan Lapangan Voli Politeknik Negeri Malang (Polinema). Acara tahunan Organisasi Kemahasiswaan Intra (OKI) Polinema ini sekaligus mengakhiri serangkaian penerimaan maba. Tujuan utamanya adalah untuk memperkenalkan kegiatan luar kelas guna meningkatkan softskill serta menyalurkan minat bakat.

Acara orasi Expo Kelembagaan yang disaksikan oleh seluruh maba tahun akademik 2017/2018 di Lapangan Minisoccer, Polinema, Sabtu (09/09) (Faris Faisal)

Setelah Lembaga Tinggi (LT) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) berorasi di atas panggung dan materi tambahan seperti Satuan Kredit Kegiatan Mahasiswa (SKKM), sesi Expo Lapangan seolah menjadi klimaks acara tahunan ini. Sebanyak 3115 maba digiring ke Lapangan Voli dalam tiga gelombang, di sana berdiri stand-stand UKM, LT, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). Di mana pun tempat dan berapa pun jumlah maba, sepanjang pengamatan penulis ada pemandangan yang hampir selalu sama, yaitu budaya tarik maba.

Belum diketahui sejak kapan budaya tersebut ada. Ketika maba dilepas ke lapangan, anggota-anggota OKI mulai menarik maba ke stand mereka. Salah satu penyebabnya adalah untuk memenuhi target pengunjung stand. Sebagai contoh, LT Badan Eksekutif Mahasiswa menargetkan 800 pengunjung dan UKM Pasukan Anti Narkotika (PASTI) menargetkan 2000 pengunjung. Suasana agak ringan terdapat di UKM kerohanian (kecuali Kerohanian Islam Polinema alias Rispol) yang otomatis mendapat anggota dan HMJ yang rekrutmennya terbatas di jurusan.

“Budaya tarik menarik ini sangat tidak berfaedah karena berpotensi menimbulkan impresi buruk di mata maba. Menurut saya, maba berhak menentukan pilihan sendiri,” tutur Ahadiah Dewi Mahadini, panitia Expo Kelembagaan. Panitia telah menyiapkan larangan penarikan secara fisik dan panitia teknis pengkondisian lapangan, tetapi realita berjalan lain walau pun peraturan tersebut disetujui oleh panitia delegasi OKI sesudah disampaikan pada forum masing-masing. Sanksi atas pelanggaran berupa pengurangan nilai dan diskualifikasi dari perlombaan stand expo.

“Acara Expo kemarin meriah banget dan menghibur, namun kurang nyaman pada saat berkunjung ke stand kita ditarik-tarik dengan kondisi cuaca panas dan udara berdebu,” ujar Titik Nurhayati, maba Administrasi Niaga. Pendapat seupa disampaikan Mirnawati, maba Akuntansi yang sempat bingung dengan aksi tarik-menarik ini.

Bila menjadikan tujuan sebagai tolok ukur jalannya Expo Kelembagaan, budaya tarik maba tidak termasuk di dalamnya. Walau kuantitas memadai, tapi sisi lainnya adalah maba tidak bisa mengenal OKI lebih spesifik atau tidak bisa fokus karena terlalu banyak penarikan yang mungkin diikuti dengan setengah hati. Apakah tahun depan budaya ini akan terulang?

 

(Devi, Khori, Shofi)

 

 

Related Posts