BIFURKASI SATU MINGGU

Ilustrasi : pinterest

Ilustrasi : pinterest

–didedikasikan untuk semua yang pernah merasakan LDK Polinema

oleh: Diata Ma

 

Pita hijau berkibar. Tangan kurusku yang memegangnya bergerak gelisah  mencari teman-teman. Aku terlambat datang ke lapangan upacara pembukaan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) pagi ini. Kata teman-teman di grup jurusan, jika ada apa-apa kibarkan pita hijau.

GREP.

“Dasar! Kita panggilin kamu gak nengok-nengok,” celetuk Stephanie gemas sambil merangkulku. Entah dari mana dan sejak kapan ia di sini.

“Padahal kita di arah sana lho! Segede gini masih nggak kelihatan,” timpal Bima yang berbadan tambun.

“Ehehe.” Aku cuma tertawa kecil.

Mereka menggiringku ke barisan kami. Pemimpin upacara sudah mulai memberi instruksi. Dalam gegas, entah kenapa kepalaku tergerak menoleh ke kiri. Aku beradu pandang dengan seseorang, lelaki berlesung pipi dengan atribut pita abu-abu.

****

Selamat menghuni rindam (barak tentara). Lewati jalan yang benar, lapangan hitam sakral hanya untuk tempat berlatih baris. Jaga ucapan, perbuatan, serta jangan berpikiran kosong. Jangan menyampirkan handuk di bahu. Waspadai perempuan berbaju merah. Selamat menikmati masa LDK … di mana para mahasiswa baru harus bangun pagi namun mandi bukan prioritas lagi.

“Langkah tegap maju jalan!”

Kiri …. Kiri …. Kiri …. Kiri …. Ups!

“Arkiral, konsentrasi!” tegur pelatih.

Kiri …. Kiri …. Kiri …. Kiri ….

“Jalan di tempat, grak!”

Satu …. Dua …. Tiga …. Hah? Telingaku sedang gagal fokus. Danton menginstruksikan jalan di tempat, tapi aku malah hormat. Nesye dan Haru yang berbaris di samping kiri dan kananku menahan tawa. Peleton laki-laki yang sedang beristirahat turut memperhatikan kami. Ingat si Lesung Pipi di upacara pembukaan LDK? Dia bukan seseorang yang menonjol dalam peleton pita abu-abu, namun aku bisa langsung terarah pada tawa kecilnya.

“Kamu melihat apa, ‘Ki? Kucing ganteng?” tanya Haru.

“Bukan, penampakan yang mengganggu Nesye waktu jaga malam kemarin,” balasku sok datar. Nesye batal tertawa mendengarnya.

“Jangan dibahas lagi di area rindam! Pamali,” sergahnya dengan suara sedikit bergetar.

Aku dan Haru malah tertawa. Beberapa hari ditempa bersama membuatku semakin dekat dengan teman-teman. Kedekatan yang lebih dari sekadar saling mengoleskan balsem ke punggung di malam hari atau mandi beramai-ramai di pagi buta. Selalu ada kejutan setiap harinya. Maskeran aneh, merayap, gelantungan, dan outbond-outbond lain.

Senam, membersihkan lapangan, berbaris, bernyanyi, ceramah hingga kami terkantuk-kantuk, jaga malam, dan makan greget rutin diagendakan. Nasi krispi, begitu celetukan salah satu danton yang aku lupa namanya. Nilai positif dari sesi makan adalah lauk tidak hambar. Karena porsi tiap piring terlalu banyak, peleton yang lebih dulu memasuki ruang makan gemar memindahkan sebagian nasinya ke piring lain. Kemarin adalah hari apes peletonku masuk belakangan.

Kuambil lauk yang tersedia dengan kepasrahan maksimal, begitu pula sayurnya. Aku benci sayuran jenis ini. Soundtrack suara muntah para pelatih sedikit mengganggu. Belum setengah nasi tandas, rasanya diriku sudah tak kuat.

Sini kuhabiskan.

Aku mendongak, si Lesung Pipi.

Trims, cicitku sambil makan semangka.

“Melamun apa sih, ‘Ki?” Nesye membuyarkan lamunanku, “Mau nyepik perwira rindam sebelah? Denger-denger hari ini kita akan ke sana jalan kaki.”

****

Tak terasa sisa hari LDK berlalu lebih cepat, atau mungkin kami yang mulai terbiasa. Di malam terakhir, kami semua dikumpulkan di tanah lapang luar rindam. Satu minggu yang sangat berkesan. Banyak pelajaran yang dapat kami ambil.

Begitu api unggun dinyalakan, mengaburlah batas antara pelatih dan peserta. Tidak ada lagi tentara dan mahasiswa. Semua bernyanyi seraya mengitari api unggun. Keributan ringan sedikit mengganggu keteraturan formasi barisan. Menari, berfoto, berlarian. Kakak-kakak pers kampus memfasilitasi kenarsisan kami. Blitz kamera di mana-mana.

TAP.

Aku hampir menubruk seseorang. Ternyata dia … lagi. Kali ini kami berhadapan dalam euforia api unggun. Kami bertemu beberapa kali, tapi aku tetap menganggapnya sebagai kebetulan. Tidak ada kepak kupu-kupu menggelitik perut. Jantungku tidak bertalu-talu. Meski begitu senyum khasnya membuat secuil bayanganku luruh.

“Kita bertemu lagi,” sapanya hangat.

“Hu,um, halo,” balasku.

“Kiral, ‘kan? Namamu kimia banget.”

Cengiran kuda kupasang. Dari api unggun, percikan api mengudara seperti kunang-kunang.

“Selamat ulang tahun ya ….”

Eh? Dari mana ….

“Kiraaal, hayuk ke sana!” ajak Sofi. Di sisi lain, dia juga tertarik teman-temannya. Awalnya aku ingin mencuri satu tengokan tepat sasaran. Sayangnya kebersamaan lingkaran program studiku lebih menawan perhatian. Kami habiskan malam di zona masing-masing, tanpa sesal.

****

Apa kalian juga pernah menajamkan perhatian pada seseorang (terlalu dangkal untuk menyebutnya “suka”) di suatu lokasi? Sampai akhir LDK, aku tidak pernah mengetahui namanya. Kurasa beberapa bulan lagi aku sudah melupakan detail wajahnya.

“Ki, cepat naik!” Rita mengulurkan tangan dari dalam mobil tentara. Kusambut uluran tangannya lalu melompat naik.

Kami pulang. Aku memperhatikan sekeliling selagi mobil belum berjalan. Entah mataku atau matanya yang pertama menemukan … namun senyumannya membuatku lupa mengalihkan pandangan.

Related Posts