Berpikir Lebih Jauh tentang Introversi Manusia

Ilustrasi ekstrover (kiri) dan introver (kanan), Sumber : Cupofjo.com

Apa kalian pernah mendengar tentang introver dan ekstrover? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, introver/in·tro·ver/ /introvér/ a bersifat suka memendam rasa dan pikiran sendiri dan tidak mengutarakannya kepada orang lain; bersifat tertutup. Sedangkan ekstrover/eks·tro·ver/ /ékstrovér/ n orang yang minatnya ditujukan seluruhnya kepada yang ada di luar dirinya dan tidak ditujukan kepada yang ada dalam pikiran dan perasaannya sendiri; bersikap terbuka. Masih menjadi misteri mengapa introver adalah adjektif dan ekstrover adalah nomina.

Carl Jung, dokter psikologi dari Swiss pada 1920 mengibaratkan kepribadian manusia seperti garis lurus, dengan introver dan ekstrover berada di masing-masing ujung, serta ambiver sebagai titik tengah. Jika ekstrover mendapatkan energi dari interaksi dengan orang lain, maka introver mendapatkan energi dari dunianya sendiri. Sedangkan ambiver berada di antara keduanya. Setiap orang memiliki kadar introversi yang berbeda. Jung memprediksi sepertiga penduduk dunia adalah introver.

Stigma tentang introver

Menurut Susan Cain, penulis buku Quiet: The Power of introverts in a World That Can’t Stop Talking, stigma dan perlakuan tak adil terhadap introver sudah berlangsung sejak abad ke-19 dan makin parah di awal abad ke-20. Sebagian orang memandang introver seperti parasit karena dianggap tidak cakap berkomunikasi dan bersosialisasi. Stigma tentang introver pun berkembang. Introver adalah orang aneh, kikuk, pemalu, anti sosial, licik, sombong, public speaker yang buruk, bukan pemimpin yang baik, dan tidak bisa sebahagia ekstrover hanya beberapa contohnya. Meski Mahatma Gandhi, Albert Einstein, dan Mohammad Hatta masuk jajaran tokoh introver, stigma tetap melekat. Kesalahpahaman ini akhirnya menggiring dunia untuk menuntut introver berperilaku sebagaimana ekstrover.

Introver secara ilmiah

Menurut penelitian yang dirilis pada jurnal Frontiers in Human Neuroscience, pemrosesan informasi di otak orang berkepribadian introver dan ekstrover berbeda. Saat ekstrover menerima informasi dari luar, informasi tersebut akan diproses melalui area-area otak yang memroses penglihatan, pendengaran, pengecap, dan peraba. Sedangkan introver memroses informasi dengan jalur yang lebih panjang, karena juga melalui area pemikiran pribadi, pemahaman perasaan, perencanaan komunikasi, seleksi ide atau aksi, dan ingatan autobiografi.

Michael Cohen dari University of Amsterdam menyebutkan adanya perbedaan fungsi hormonal. Otak ekstrover memiliki sensitivitas rendah terhadap dopamin dan asetilkolin yang memengaruhi perasaan. Jadi, untuk merasa gembira mereka butuh banyak stimulasi seperti berinteraksi dengan orang lain. Sedangkan otak introver memiliki sensitivitas yang relatif tinggi terhadap dua senyawa tersebut, sehingga sedikit stimulasi sudah cukup untuk membuat mereka gembira. Apabila terlalu banyak interaksi sosial, otak mereka akan menerima rangsangan yang melebihi batas optimal, akibatnya mereka akan merasa kelebihan stimulasi, gelisah, bahkan tegang.

“Introver mudah terstimulasi oleh lingkungan. Jika ada banyak keramaian di sekitarnya, mereka jadi mudah stres. Meski begitu, introver lebih merasa nyaman dilibatkan dalam pembicaraan dan tidak merasa harus selalu ‘nyambung’ dengan orang lain. Ia juga bisa merasa diabaikan,” kata Laurie Helgoe, PhD, penulis buku Introvert Power. Menurut penelitian Yasinta Nurul Azizah dari fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta pada 2016, untuk kasus yang sama tingkat stres ekstrover sebesar 34,3% dan introver mencapai 57,1%.

Dr. Laney dalam hasil penelitiannya menyatakan bahwa introver memiliki kecenderungan aktifnya sistem parasimpatik yang membuat mereka merasa tenang. Pada 2012, Randy Buckner dari University of Harvard menemukan bahwa otak introver memiliki struktur materi abu-abu (inggris: gray matter, latin: substantia grisea) yang lebih banyak, terutama di bagian prefrontal korteks, yang mana berperan dalam aktivitas berpikir abstrak dan proses pengambilan keputusan. Sayangnya, menurut studi dari University of Nottingham dan University of California, justru ekstroverlah yang memilki sistem imun yang lebih kuat.

Kelanjutan introversi-ekstraversi manusia

Jauh sebelum konsep introversi-ekstraversi disampaikan Jung, pada tahun 400 Sebelum Masehi Hippocrates sudah membagi manusia menjadi empat jenis, yakni kholeris (pelaku), sanguinis (pembicara), melankolis (pemikir), dan plegmatis (pengamat). Ditinjau dari karakteristik masing-masing, kholeris dan sanguinis memiliki kecenderungan ekstrover, sedangkan melankolis dan plegmatis memiliki kecenderungan introver. Korelasi antara dua kategori ini terdapat dalam diagram Eysenck.

Sumber : trans4mind.com

Model kepribadian lain pun bermunculan. Dua model yang dianggap masih relevan adalah Myer Briggs Type Indicator (MBTI) dan teori Lima Faktor. MTBI dikembangkan oleh wanita bernama Katherine Cook Briggs dan putrinya bernama Isabel Briggs Myer pada 1962. MTBI membagi manusia dalam 16 kepribadian yang ditentukan oleh empat kecenderungan, yaitu extroverted-introverted, intuition-sense, thinking-feeling, dan judging-perceiving. Sampai pada tahun 1985, McCrae dan Costa kepribadian mulai condong pada model lima faktor OCEAN. Dimensi tersebut adalah Openness (O), Conscientiousness (C), Extraversion (E), Agreeableness (A) dan Neuroticism (N). Karena introver sulit diamati, pada model OCEAN introver adalah orang yang kadar ekstraversinya rendah.

Terlepas dari tetek bengek introver yang masih abu-abu dan kebenaran yang senantiasa dinamis, setiap orang wajib mengenal dan mengembangkan diri. “Semua orang punya spektrumnya masing-masing dan tetap bisa cemerlang dengan menjadi dirinya sendiri. Justru, pemaksaan menyeberang karakter akan berdampak buruk pada pengembangan dirinya,” pungkas Susan Cain.

(Diatama)

 

Related Posts