Berliterasi secara Manusiawi

Kondisi di salah satu meja buku Gramedia Boom, Minggu (30/10). (diatama)

Kondisi di salah satu meja buku Gramedia Boom, Minggu (30/10). (diatama)

Ini pertama kalinya saya menghadiri diskon besar sekelas Gramedia Boom di Taman Krida Budaya Malang pada hari terakhir, Minggu (30/10). Hal pertama yang saya pikirkan sebelum masuk ke lokasi adalah “Wah, ramai! Senangnyaaa.” Antusiasme kian bertambah, tapi kemudian saya sempat kecewa pada pandangan pertama. Ketika di meja maupun di kardus, buku – buku berantakan, kotor, terlipat, atau bahkan kulitnya terkelupas. Sayangnya di mata pengunjung lain, hal tersebut seakan sudah dianggap lumrah. Bahkan saat saya mencoba menolong beberapa buku, begitu saya melewati tempat tersebut lagi keadaannya kembali berantakan.

Kepala Sekolah saya waktu SD pernah berkata, “Jika ingin barokah, hargailah sumber ilmu!” Bukankah buku termasuk sumber ilmu? Apa yang akan dikatakan buku jika ia bisa bicara? Apa yang dirasakan penulis saat menyaksikannya? Mungkin sebagian orang masih mengira menulis cuma urusan gampang, membaca terkadang membosankan, serta gratisan adalah pemanfaatan waktu dan keadaan. Mereka belum mengerti bahwa buku juga merupakan bukti perjuangan, upaya pencerdasan, jejak kenang, amal, hingga penyampaian harapan. Kepada kalian yang membaca artikel saya …, mari belajar lebih menghargai; berliterasi secara manusiawi. (Diata Ma)

Related Posts