Berkenalan dengan Malang Open Taekwondo

Tim N-Lion’s memeragakan atraksi Kyukpan pada pembukaan Malang Open Taekwondo(28/01).

Taekwondo adalah salah satu cabang olahraga bela diri yang berasal dari Korea.  Bambang Kajijogo, ketua Pengurus Cabang Taekwondo Kota Malang mengungkapkan, “Minat pada olahraga taekwondo di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Pada event taekwondo Piala Gubernur DKI Jakarta lalu, ada 2500 peserta dalam dua hari. Sekarang, kami, Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) coba mengadakan event di Malang yang kami upayakan akan menjadi event tahunan.” Marciano Norman, Purnawirawan Letnan Jenderal Tentara Nasional Indonesia (Letjen TNI) sekaligus ketua umum PBTI turut menanggapi, “Malang berpotensi menjadi tuan rumah. Sebagai Kota Pendidikan, tentu banyak pelajar dan dari sana saya rasa akan bermunculan bibit-bibit baru.”

Sabtu (28/01), Pengurus Besar Taekwondo Indonesia bekerjasama dengan Politeknik Negeri Malang (Polinema) menyelenggarakan Malang Open Taekwondo di Graha Polinema. Acara dihadiri oleh 1.018 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. “Saya bangga Polinema berpartisipasi dalam penyelenggaraan event taekwondo. Tidak semua perguruan tinggi bisa memperoleh kesempatan serupa,” ujar Dr. Ir. Tundung Subali Patma, MT selaku direktur Polinema.

Bambang menjelaskan bahwa Malang Open Taekwondo menganut sistem festival, yaitu pembagian berdasarkan sabuk, usia, berat, dan tinggi badan. Hal tersebut dilakukan agar para atlet mendapatkan lawan sebanding. Perlombaan terbagi atas kategori poomsae (seni) dan kyorugi (pertandingan) dengan empat kelas, antara lain: prakadet (<11 tahun), kadet (11-15 tahun), junior (15-17 tahun), dan senior (>17 tahun). “Tujuan kami untuk mewadahi para atlet dan mencari bibit baru. Di sini kami juga mengadakan kelas prakadet yang biasanya jarang dilombakan,” terang Bambang.

Sebelum pertandingan dimulai, Tim N-Lion’s dari Bogor yang memenangkan Go Show unjuk atraksi taekwondo. Salah satu aksinya adalah kyukpa (memecah benda keras seperti balok kayu. Untuk kategori poomsae, peserta diberi kesempatan dua menit untuk melakukan gerakan-gerakan poomsae. Pertandingan kyorugi terdiri atas tiga ronde yang masing-masing durasinya dua menit. Pemenang poomsae dan kyorugi dilihat dari poin yang lebih banyak.

Di akhir acara, tim dan para peserta terbaik mendapatkan piala dan uang pembinaan. Tim terbaik adalah Potorono Taekwondo Club (PTC) Bantul, dan tim favorit adalah Taekwondo Kabupaten Blitar. Untuk kategori poomsae, peserta terbaik adalah Raja Dewantara (Pamekasan) dan peserta favorit adalah Imam Khafi (Pati). Kategori kyorugi terbagi menjadi beberapa kelas:

Prakadet putra dan putri terbaik adalah Bagas Zauhair Shofyan (PTC Bantul) dan Sekar Lintang (Probolinggo). Prakadet putra dan putri favorit adalah Bagastian Bolan dan Nabila Salsabila dari Blitar. Kadet putra dan putri terbaik adalah Zidan Santoso (Kediri) dan Masyatul Laili (Jepara TKD Center). Kadet putra dan putri favorit adalah M. Fananda Catur (Gunawan Club) dan Fadila Putri (PTC Bantul). Junior putra dan putri terbaik adalah Resa Sanjaya (RBC SCM Polda Jatim) dan Sabrila Murni (Ocean TKD Community). Junior putra dan putri favorit adalah (Pasuruan) dan Octavian Bagus (Pasuruan) dan Rosario Stifiana (NTT). Untuk kelas senior atlet terbaik adalah dan atlet favorit adalah Adam Satria (Semarang) dan Masyatul (Universitas Negeri Malang).

“Saya senang. Di sini saya mendapatkan pengalaman dan kawan. Menang kalah itu hal biasa,” komentar Muhammad Sadewo, peserta kyorugi junior dari kontingen Singosari ketika ditemui setelah pertandingannya. Menanggapi keseluruhan acara, Marceano Rivaldi Kalalo, ayah Raymond Aria Krisna Kalalo, peserta dari kontingen Jember berpendapat, “Acaranya oke. Saya harap tahun depan bukan cuma festival, tapi bisa seperti kejuaraan provinsi dan nasional.”

(diatama)

Related Posts