Aku, Lilin, Api, dan Ironi

Sumber : https://ervakurniawan.files.wordpress.com

Aku,

Adalah selembar kapas ringan yang tipis

Terkapar lembut diantara lilin yang menyala garang

Bertegur sapa dengan asap yang menggeliat menari

Semakin gelap, semakin tinggi, semakin tumbuh gejolak

Oh, bukan. Dia memperkenalkan diri sebagai ironi

Berlarian menantang galat temaram

Lalu, pergi. Dariku. Jauh

 

Aku,

Adalah saksi tenang diantara gelombang rentang ruang

Yang berdiri, berapi, panas, sedang berontak

Ingin kupeluk dia, hangat

Dia menolak. Dia tak sanggup menjatuhkan baranya pada putihku

Dia terus membakar, merundung keheningan malam

Oh, bukan. Dia memperkenalkan diri sebagai ironi

Berlarian menantang galat temaram

Lalu, pergi. Dariku. Jauh

 

Aku,

Tinggal sendiri, berdrama dengan diam. Sunyi,

Ingin kubersenggama dengan guratan ironi yang sama

Tapi apalah aku, buta, tuli, tanpa rasa

Ingin kuberlarian, menari, bernyanyi

Setidaknya untuk menarik ia kembali

Aku takut, sendiri.

Tapi hingga sajak ini selesai, aku masih sendiri, dan mereka masih dengan marahnya

(Nia.rs)

Related Posts